Tiger Vs Roadwin 200 Vs Pulsar

Bakal hadirnya Kanzen Roadwin 200 tentu akan menambah ramai persaingan jenis motor laki (motorsport) di kelas 200 cc. Sebelumnya, muncul lebih dulu Bajaj Pulsar 200 DTS-I dan Honda New Tiger Revolution.

Dari kebesaran nama, penguasaan pasar, dan tentu berkaitan dengan harga jual balik, jelas Tiger mengungguli kedua pesaingnya yang berasal dari negara berbeda, yakni Indonesia (Kanzen) dan India (Bajaj). Namun, dari segi fitur dan desain yang ditawarkan kepada konsumen, ketiganya mungkin bisa fight.

Untuk mengetahui lebih detail, Em-Plus melakukan komparasi terhadap ketiga motor yang punya range harga di atas Rp 15 juta. Artinya, mereka tidak dipandang sebagai daily use, namun sudah masuk lifestyle, aktivitas hobi, baik turing maupun sekadar image.

Tampilan keseluruhan
Konsep double down tube yang dipakai Kanzen lumayan mencuri perhatian, apalagi desain yang dia pilih cukup clean dan simpel. Lekukannya juga minimalis tanpa mengesampingkan kesan gahar di motor laki. Yang pasti, pilihan monoshock jadi keunggulan yang berdampak pada desain keseluruhan.

Honda lain lagi. Kesan futuristik khas cruiser Eropa lewat asimetris dan detail yang rapi jadi pertimbangan, apalagi motor ini ada dalam naungan pabrikan yang sudah melegenda di benak bikers Indonesia.

Sementara itu, Bajaj sebagai new comers, cukup berani dengan desain berasa Italia-nya. Buntut meruncing dengan desain lampu yang extraordinary jadi evaluasi tersendiri. “Tapi di soal streamline, Honda lebih terasa,” nilai Goy Gautama, dosen Seni Rupa ITB yang juga pengamat desain motor asal Bandung.

Fitur-fitur
Mungkin kita mulai dari bagian depan, yakni spidometer. Kemudahan penglihatan bagi pengendara menjadi tolok ukur. Bajaj Pulsar yang menganut sistem digital, baik untuk menunjuk kecepatan maupun odometer, dinilai paling canggih. Dengan teknologi itu, konsentrasi pengendara tetap terjaga.

Justru komparasi spidometer New Tiger Revo dan Roadwin 200 lebih menarik. Saat Honda menawarkan konsep berbeda seperti asimetris, Roadwin malah tampil dengan model spidometer Tiger lama.

Ya! Dengan konsep panel dasar putih, bentuk dan model indikatornya pun tidak jauh beda. Mungkinkah seharusnya Roadwin sedikit lebih canggih? Mengingat konsep desain bodi dan sasis yang ditawarkan layaknya streetbike ala Italia.

Apa lagi keunggulan lain yang dimiliki Bajaj? Motor India ini dilengkapi sistem pendinginan. Meski sebatas pada oil cooler, bukan radiator. Dengan begitu, gejala mesin terlalu panas pun bisa diredam. Mutu oli juga tetap terjaga akibat sirkulasi yang dilakukan lewat oil cooler itu, sementara di Honda New Tiger Revolution dan Kanzen Roadwin 200 tetap mengaplikasi pendingin udara.

Untuk urusan kenyamanan saat berkendara, Kanzen Roadwin 200 menawarkan konsep monoshock, sedangkan dua kompetitornya tetap bertahan dengan gaya dual atau dua shock belakang.

Untuk soal fungsi, kemampuan atau kestabilan, shock dua juga enggak kalah hebat sih. Sebab, dari Honda New Tiger Revolution dan Bajaj Pulsar 200 juga menawarkan peredam kejut yang dilengkapi dengan fitur gas. So, empuk dong!

Kalau bicara estetika tentu lain lagi. Virus atau tren motor modern adalah clean and simple, apalagi untuk yang bergaya sporty seperti yang ditawarkan ketiganya. Di sini gaya monoshock tentu lebih dilirik dan up-to-date. Di soal ini, Kanzen boleh bangga!

Lampu Tiger unggul
Buat penerangan di lampu belakang, nampaknya Kanzen kudu mengalah dengan Tiger dan Pulsar. Itu karena kedua kompetitor mengaplikasi model LED. Selain daya pancar cahaya lebih terang, model tersebut juga lebih hemat arus listrik.

Soal bentuk, desain lampu yang ditawarkan Pulsar dan Tiger enggak kalah menarik. Dengan mika putih, lampu belakang Bajaj terlihat futuristik. Begitu juga dengan New Tiger yang membedakan antara mika lampu rem dan lampu malam. Jadi, lebih mudah dicermati pengendara di belakang. Ngomong soal Lampu, desain Tiger berani tampil beda lewat konsep asimetrisnya.

sumber : (eka)otomotif.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar