TVS 160 cc Injection


Tentunya kita sudah familier TVS Apache RTR 160 asal India. Tapi jangan salah, sebab Apache RTR 160 berwarna kuning ini berbeda dengan versi yang sudah mengaspal di jalanan Indonesia.

Fitur paling mencolok yang membedakan adalah fitur pengkabutan bahan bakarnya. Kalau produk lokal masih pakai karburator. Versi yang sudah dijual bebas di India ini selangkah lebih maju dengan sistem injeksi.

“Ini motor sudah dijual lebih dahulu di India, dan kabarnya bakal dijual juga di Indonesia. Mungkin untuk menyaingi motor sport lain yang sudah pakai injeksi,” ungkap salah satu penjaga stand di Jakarta Expo 2008.

Ada tambahan Air Scoop
Injeksi menggusur karburator

Wah, kalau itu benar-benar terjadi tentunya akan membuat Apache RTR makin ganteng. Pasalnya selain sudah mengaplikasikan disk brake belakang. Motor ini juga sudah dilengkapi air scope di tankinya.

Ngomong-ngomong kapan dijual di Indonesia? “Katanya tahun depan, dan paling lambat saat Jakarta Expo 2009,” bocor si penjaga stand lagi. Berarti bisa lebih cepat dong? Layak di tunggu nih.








Penulis/Foto: Popo/Reza

sumber : otomotifnet.com

Pilih-pilih OLI MOTOR

Dikutip Dari http://karismafansclub.or.id


MEMILIH PELUMAS YANG BAIK DAN BENAR …?

Pelumas adalah bahan penting bagi kendaraan bermotor. Memilih dan menggunakan pelumas yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor anda, merupakan langkah tepat untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan.

Umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain yang tak kalah penting, yakni antara lain sebagai; Pendingin, Pelindung dari Karat, Pembersih dan Penutup Celah pada Dinding Mesin.

Semua Fungsi tersebut adalah sangat erat berkaitan; sebagai Pelumas, Oli akan membuat gesekan antar komponen di dalam mesin bergerak lebih halus, sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal. Selain itu Oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat Celcius ke bagian lain mesin yang lebih dingin.

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun disisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli.

Oleh sebab itu, peruntukkan bagi mesin kendaraan Baru (dan/atau relatif Baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan untuk menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi.

Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder guna melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Disamping itu pula kandungan aditif deterjen dalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat pergantian oli.

SPESIFIKASI OLI

Semakin banyaknya pilihan oli saat ini, tidak semestinya membuat bingung. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan Acuan; antara lain, kenali karakter kendaraan anda (spesifikasi mesin serta lingkungan dimana mayoritas anda berkendara (suhu, kelembaban udara, debu, dsbnya.).

Tingkat kekentalan oli yang juga disebut “VISKOSITY-GRADE” adalah ukuran kekentalan dan kemampuan pelumas untuk mengalir pada temperatur tertentu menjadi prioritas terpenting dalam memilih Oli. Kode pengenal Oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers. Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. SAE 40 atau SAE 15W-50, semakin besar angka yang mengikuti Kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut.

Sedangkan huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun. Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada kisaran angka kekentalan 40-50 menurut standar SAE.

Mutu dari oli sendiri ditunjukkan oleh kode API (American Petroleum Institute) dengan diikuti oleh tingkatan huruf dibelakangnya. API: SL, kode S (Spark) menandakan pelumas mesin untuk bensin. Kode huruf kedua mununjukkan nilai mutu oli, semakin mendekati huruf Z mutu oli semakin baik dalam melapisi komponen dengan lapisan film dan semakin sesuai dengan kebutuhan mesin modern.

§ SF/SG/SH - untuk jenis mesin kendaraan produksi (1980-1996)
§ SJ - untuk jenis mesin kendaraan produksi (1996 - 2001)
§ SL - untuk jenis mesin kendaraan produksi (2001 - 2004)

Perhatikan peruntukan pelumas, apakah digunaan untuk pelumas mesin bensin, atau diesel (2 tak atau 4 tak), peralatan industri, dan sebagainya. Untuk memilih kualitas pelumas yang cocok, kita dapat mengacu pada API Service (American Petroleum Institute), JASO (Japan Automotive Standard Association), ACEA (Association Des Constructeurs Europeens d’ Automobiles), DIN (Deutsche Industrie Norm), dan lain-lain yaitu acuan untuk kerja (performance) pelumas berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh lembaga independen industri pelumas international.

Semua oli baik mineral maupun synthetic sama-sama ada standar APInya. Oli mineral biasanya dibuat dari hasil penyulingan sedangkan oli synthetic dari hasil campuran kimia. Bahan oli synthectic biasanya PAO (PolyAlphaOlefin). Jadi oli Mineral API SL kualitasnya tidak sama dengan oli Synthetic API SL.

Oli synthetic biasanya disarankan untuk mesin2 berteknologi terbaru (turbo, supercharger, dohc, dsbnya) juga yang membutuhkan pelumasan yang lebih baik (racing) dimana celah antar part/logam lebih kecil/sempit/presisi dimana hanya oli synthetic yang bisa melapisi dan mengalir sempurna. Oli synthetic tidak disarankan untuk mesin yang berteknologi lama dimana celah antar part biasanya sangat besar/renggang sehingga bila menggunakan oli synthetic biasanya menjadi lebih boros karena oli ikut masuk keruang pembakaran dan ikut terbakar sehingga oli cepat habis dan knalpot agak ngebul.

Berikut beberapa keunggulan oli synthetic dibandingkan oli mineral :

§ Lebih stabil pada temperatur tinggi
§ Mengontrol/Mencegah terjadinya endapan karbon pada mesin
§ Sirkulasi lebih lancar pada waktu start pagi hari/cuaca dingin
§ Melumasi dan melapisi metal lebih baik dan mencegah terjadi gesekan antar logam yang berakibat kerusakan mesin
§ Tahan terhadapan perubahan/oksidasi sehingga lebih tahan lama sehingga lebih ekonomis dan efisien
§ Mengurangi terjadinya gesekan, meningkatkan tenaga dan mesin lebih dingin
§ Mengandung detergen yang lebih baik untuk membersihkan mesin dari kerak

Jadi untuk mesin yang diproduksi tahun 2001 keatas disarankan sudah menggunakan oli yang bertipe synthetic baik semi synthetic (campuran dengan mineral oil) atau fully-synthetic.

Note: Kalau untuk pemakaian sehari-hari cukup yang semi synthetic.

Oli untuk motor sampai saat ini belum dapat informasinya yang sudah API SL.
Oli motor synthetic hampir semuanya baru SJ, kalo mineral mungkin baru SG/SH.

Mineral Oil :
§ Sprinta 2000 : SAE 20W-50, API SG
§ Evalube 4T : SAE 20W-50, API SF
§ Mesran Super : SAE 20W-50, API SG
§ Enduro 4T : SAE 20W-50, API SG
§ Penzoil Motorcycle 4T : SAE 20W-50, API SF

Oli yang bagus (biasanya synthetic) mampu memberikan lapisan film tipis yang pada komponen metal yang bergerak yang mana berguna untuk mengurangi gesekan komponen metal sehingga suara mesin jadi lebih halus dan tarikan lebih mantap.

Pada intinya milih oli hampir sama dengan milih bini (cocok2an) tapi ada garis besarnya yang bisa di-ikuti :
§ Disarankan jangan menggunakan oli untuk mobil ke motor anda sebab ada bahan di-oli mobil yang harus dikurangi bahkan dihilangkan tetapi di motor harus agak banyak untuk meredam gesekan karena putaran mesin motor lebih tinggi dan lebih berat kerjanya.
§ Motor tahun 2001 keatas disarankan menggunakan Oli API SG keatas misal API SH/SJ atau SL. SAE bisa 20w50 atau 10w40. Usahakan yang Semi Sintetik karena lebih licin sehingga bisa masuk kecelah2 metal mesin yang sempit dan tahan oksidasi sehingga kualitas oli tidak gampang rusak dan mesin jadi lebih bersih dan tentunya tarikan jadi lebih mantap.

Disarankan juga untuk menggunakan Pelumas yang memiliki dan mencantumkan Nomor Pelumas Terdaftar Untuk melindungi kepentingan masyarakat atas mutu pelumas yang beredar di dalam negeri pelumas sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1693.K/34/MEM/2001 tanggal 22 Juni 2002. Pelumas yang memiliki NPT adalah pelumas yang telah memenuhi persyaratan administratif dan teknis serta lulus uji laboraturium terakreditasi yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal MIGAS. NPT dapat diidentifikasikan dengan 12 digit huruf dan angka Contoh : DEPTAMBEN RI NPT : AB25E4110199 atau DESDM RI NPT : AC66E1054104.

MITOS

Minimnya pengetahuan tentang perkembangan teknologi pelumas, menyebabkan timbulnya banyak mitos di masyarakat. Sebagai contoh, saat mengganti oli mesin … oli bekas berwarna hitam … sering dianggap oli berkualitas buruk.

Padahal justru sebaliknya, perubahan warna oli menandakan bahwa oli telah bekerja dengan baik sebagai pelarut kotoran. Selanjutnya kotoran akan terbawa keluar pada saat pergantian oli dilakukan, karenanya dinding mesin akan terbebas dari kerak.

Dilain pihak, apabila perubahan warna tersebut terjadi dalam kurun waktu yang sangat dekat (terhitung sejak saat pergantian pertama), itu menandakan kemungkinan adanya kerusakan komponen didalam mesin sehingga oli cepat teroksidasi.

Kita jangan bingung2, pake aja oli yang bagus (mungkin harus 2-4 kali coba baru dapet, kayak pacaran aja kalau cocok jadi bini).
Kalau dilihat dibuku petunjuk motor hampir tidak disebutkan merk oli dan yang disebutkan hanya API SG 20w50 atau yang lebih baik. Jadi kalau anda pakai oli yang lebih baik kenapa takut garansi batal?
Coba tanya ke staff AHASS hal ini, apa jawaban mereka?

Untuk mencoba oli baru bisa ikuti prosedur berikut :
§ Sebelum ganti oli, coba bersihkan saluran bahan bakar dan kerak yang mungkin ada di mesin. Tidak usah bingung, bisa pakai carburator cleaner yang dituang ke tangki misal merk STP. Lakukan tiga hari sebelum ganti oli dan motor dipakai seperti biasa dan kalau bisa kecepatan agak tinggi, ini untuk membersihkan saluran bahan bakar dan endapan karbon.
§ Ganti oli dengan oli baru yang sesuai (jangan lupa ada JASO MA) termasuk filter olinya. Lakukan penggantian oli pada kondisi mesin panas agar oli lama keluar semua.
§ Coba deh pakai selama seminggu ada perubahan yang enak gak? kalau nggak berarti olinya tidak cocok. Perubahannya : - Suara mesin jadi lebih halus, tarikan lebih ringan, tenaga lebih mantap.

Oli merk apapun kalau sudah mendapat sertifikasi API (SG/SH/SJ/SL) dan JASO MA berarti oli itu sudah memenuhi standar baku yang cukup bagus dan memenuhi semua unsur yang diperlukan oleh mesin. Masalahnya banyak oli di Indonesia tidak ada ada sertifikasi tersebut. Coba lihat kemasan oli anda, kalau tidak ada sertifikasi tersebut apakah anda rela mesin anda menderita sengsara dan akhirnya turun mesin bahkan ganti mesin?

Berikut contoh Jenis-jenis Oli yang umum dipakai dan peredarannya mudah didapat di bengkel-bengkel resmi penyalur oli:

Oli Repsol:
§ Repsol Moto Racing 4T 10W50 Semi Synthetic Oil
Sertifikasi: API SJ; JASO MA
§ Repsol Moto 4T 15W50 Mineral Oil
§ Repsol Moto Sint├ętico 4T 10W40 Semi Synthetic Oil
Sertifikasi: API SG; JASO MA; Honda Specs.

Oli Shell 4T:
§ Shell Advance S4 SAE 10W-40, 15W-40, 20W-40, 20W-50, SAE 40 Mineral oil
Sertifikasi:
API SF; belum JASO MA menurut Shell Singapore
()
API SL; JASO MA menurut Shell USA
()
§ Shell Advance SX4 SAE 10W-40, 15W-40, 15W-50 20W-50 Mineral oil
§ Shell Advance VSX4 SAE 10W-40, 15W-50, 20W-40 Semi Synthetic oil
Sertifikasi: API SL - JASO MA
§ Shell Advance Ultra 4 SAE 10W-40, 15W-50 Synthetic oil
Sertifikasi:
API SG menurut Shell Singapore
API SL - JASO MA menurut Shell USA

Rasanya untuk produk oli import musti cek kemasannya sebab walaupun kemasannya sama tapi sertifikasi beda. Jadi yang disana beli 35.000 kok disini murah cuman 25.000 ternyata beda sertifikasi. Waspadalah…!

Oli Top1 :
§ SMO-MC SAE 20W-50 Semi Synthetic
Sertifikasi: API..??
§ EVOLUTION SAE 15W-50 Synthetic
Sertifikasi: API SL

Oli Esso ada 4 tipe :
§ Esso 4T 20W-40, 20W-50 (recommended for engine <50cc) Mineral Oil
Sertifikasi: API SF - JASO MA
§ Esso 4T Power 10W-40, 15W-40, 15W-50, 20W-50 Mineral Oil
Setifikasi: API SG - JASO MA
§ Esso 4T Pace 10W-40 Semi Synthetic Oil
Setifikasi: API SJ - JASO MA
§ Esso 4T Gold 10W-40, 15W-50 and 20W-50 Synthetic Oil
Setifikasi: API SJ, SH (15W-50) - JASO MA

Caltex:
§ Caltex Revtex Fully Synthetic 4T SAE 10W40,
§ Caltex Revtex Semi-Synthetic 4T SAE 20W50,
§ Caltex Revtex Super 4T SAE 10W40, 20W40, 20W50,
Sertifikasi: API SG, JASO MA
§ Caltex Revtex Plus 4T SAE 25W-40,
§ Caltex Revtex 4T SAE 40,
Sertifikasi: API SF, JASO MA

Mobil 1:
§ Mobil Super 4T SAE 15W-50,
Seritifikasi: API SG, JASO MA
§ Mobil Extra 4T SAE 10W-40
§ Mobil Racing 4T SAE 15W-50
Sertifikasi: API SJ, JASO MA

OLI AGIP :
§ AGIP Super 4T MINERAL 15W-50
§ AGIP TEC 4T SEMI-SINT. 15W-50
§ AGIP Racing 4T SINT. 20W-50
§ Sertifikasi: API SJ

OLI MOTUL :
§ MOTUL 3000 4T MINERAL 20W-50
§ MOTUL 5100 Ester SEMI-SINT. 15W-50
§ MOTUL 300V competition SINT. 15W-50
Sertifikasi: API SG – JASO MA

Ternyata oli mineral gak cocok untuk motor baru, so yang pakai repsol moto 15W50 siap2 ganti aja Jangan Keliru Memilih Oli Mesin MINYAK pelumas atau oli tidak akan terpisahkan dengan mesin kendaraan bermotor. Tanpa oli, mesin rontok. Bila oli berkurang, komponen akan cepat aus akibat gesekan antara kedua permukaan komponen. Karena itu, kelangsungan hidup mesin amat dipengaruhi oleh oli. Makin besar kerja mesin, makin penting peran oli. Hal serupa juga terjadi pada sepeda motor, terutama di kota-kota besar, di mana lalu-lintas cenderung macet, ruwet, dan suhu kian panas. Mengingat penting dan peranannya, oli menjadi ladang bisnis menggiurkan paling tidak tiap 2.000 km sampai 5.000 km– oli harus diganti. Berbagai merek dan jenis oli pun bermunculan di pasaran. Mulai dari oli biasa (konvensional) yang disebut pelumas mineral, sampai oli sintetis dan semi sintetis. Perbedaan ketiga jenis oli ini, bisa dilihat dari komponen dan unsur di dalamnya. Pelumas konvensional, umumnya terdiri atas 90% minyak dasar (crude oil), hasil penyulingan minyak bumi, ditambah 10% campuran bahan kimia aditif guna meningkatkan kinerjanya. Bahan kimia yang dipakai sebagai campuran biasanya detergen (pembersih), antioksidasi dan Index Viscosity Imorover (campuran peningkat kekentalan). Penggabungan unsur-unsur itu membentuk oli yang mampu melumasi mesin. Pelumas sintetis, sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan-bahan aditif. Jumlahnya menentukan jenis oli sintetisnya. Oli sintetis penuh (full synthetic oil) mengandung 100% bahan aditif, yaitu minyak dasar bahan kimia yang bukan dihasilkan dari penyulingan minyak bumi. Sedangkan oli semi sintetis pelumas yang dibuat dengan menggunakan minyak dasar bahan kimia dicampur minyak mineral. Mengingat proses pengolahannya tidak lagi mengandalkan minyak dasar, bahan kimia yang banyak diaplikasi sebagai pengganti antara lain ester asam berbasa dua, ester organo fosfat, ester-silikat, glicol-polialkilena, silikon, klorida sert fluor hidrokarbon. Mengingat bahannya masih alami, oli mineral amat cocok untuk motor motor lawas, seperti Honda C-70, Honda C-90Z, Supercup, Astrea 800, Yamaha V-75, Suzuki Crystal, Binter Mercy, dan sebagainya. Kelebihannya, oli tak mudah menguap saat mesin ada pada temperatur ideal, sehingga jeroan yang sudah aus tidak bertambah parah. Untuk mesin motor baru seperti Honda Supra, Karisma, Astrea Impressa, Yamaha F1-Z, RX-King, RX-Z, Kawak Ninja, Yamaha Vega, Yupiter, Kawak Kaze, Suzuki Shogun, dan sebagainya, bisa memakai oli semi-sintetis. Perpaduan unsur mineral dan kimia, mampu menjaga kondisi mesin tetap prima, tanpa meninggalkan kemampuan untuk melindungi komponen dalam mesin. Sedangkan oli full synthetic sangat cocok dipakai pada motor balap yang mesinnya terus menerus digeber pada putaran (rpm) tinggi. Oli ini mampu melumasi seluruh bagian mesin sampai di sela-sela kecil sekalipun. Tingkat kekentalannya pun stabil meski dalam kondisi ekstrem, dan mampu menjaga mesin meski pada suhu tinggi. Klasifikasi oli sintetis tidak berbeda dengan oli biasa. Pelumas sintetis mempunyai jenis klasifikasi tingkat kekentalan tunggal (single grade), misalnya SAE 20, SAE 40 dan SAE 50. Ada juga jenis klasifikasi tingkat kekentalan jamak (multigrade) antara lain SAE 15W-50 atau SAE 20W-50. Bahkan, pada aplikasi motor balap atau mesin berteknologi mutakhir, tingkat kekentalannya sering dibuat sangat ekstrem, misalnya SAE 5W-50, SAE 10W-60. Mengingat oli sintetis memiliki banyak keunggulan dan proses pembuatannya lebih rumit dibanding oli biasa, harganya pun relatif mahal. Nah, untuk memilih oli yang pas, sesuaikan dengan kebutuhan mesin motor Anda

Oli Sintetik vs Mineral

Banyak pemilik kendaraan yang bingung dalam memilih apakah harus menggunakan pelumas sintetik, atau cukup pelumas mineral?. Di satu sisi mereka ingin memberi proteksi atau perlindungan pada mesin kendaraan dan di sisi lain harga pelumas yang murni sintetik pastinya tidak murah. Kualitas pelumas yang 100% sintetik (fully synthetic) memang sangat baik. Namur harga pelumas mahal sebab pelumas sintetik umumnya produk impor. Bila yang Anda butuhkan sebenarnya cukup pelumas mineral, kenapa mesti memakai sintetik?

Pelumas sintetik dan mineral dibedakan atas bahan dasar pembuatannya. Pelumas mineral terbuat dari minyak mentah (crude oil), dengan penambahan aditif sekitar 10-20%. Sedangkan pelumas sintetik terbuat dari unsur-unsur kimia sintetik, baik bahan dasarnya maupun aditifnya. Proses pembuatannya pun cukup rumit, maka harga pelumas sintetik jauh lebih mahal dari pelumas mineral. Perlu diwaspadai jika ada pelumas sintetik dengan harga lebih murah dari pelumas mineral.

Kelebihan Pelumas Mineral

- Harga bersaing

- Teruji kehandalannya dalam pemakaian normal

Kelebihan Pelumas Sintetis

- Memiliki daya tahan yang tinggi saat mesin bekerja berat misalnya cuaca yang sangat panas, perjalanan jauh dan berat seperti di padang pasir atau digurun.

- Tahan terhadap cuaca yang rendah (dingin), kekentalan oli sintetik tidak berubah.

- Kekentalannya baik karena pada saat dingin pelumas sintetik tidak membeku, dan pada saat panas pelumas sintetik tidak mencair.

Kondisi diIndonesia cukup stabil, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Penggunaan oli mineral dirasa sudah cukup atau sesuai dengan standar yang diterapkan oleh pabrikan. Sebab bila kondisi mengemudi anda normal, namun menggunakan pelumas sintetis sangat disayangkan anda malah melakukan pemborosan.

Dewasa ini ada banyak pelumas sintetik yang beredar di pasar. Bila Anda harus menggunakan oli sintetik sebaiknya pilihlah yang 100% sintetik, bukan semi sintetik atau synthetic base, agar Anda benar-benar mendapatkan tambahan performa bagi uang yang telah Anda keluarkan. Dan jangan lupa ganti filter oli secara teratur.

Source : duniabengkel.com

Vixion Vs Megapro

Could you belive this? V-Ixion unggul hampir-hampir di setiap parameter tersedia dalam tes berikut ini.


Banyak yang bertanya-tanya bagaimana sesungguhnya performa V-Ixion dengan beberapa rival terdekatnya. Rupa-rupanya sudah ada yang melakukan test tersebut sebagaimana akan diulas berikut ini. Namun sebelumnya, wanti-wanti bagi anda sekalian bahwa kita harus memberi dua catatan penting pada test ini:



  1. Sebagian dari isi pengujian (test) ini sepertinya dilakukan off the track alias menggunakan dyno. Kita juga tidak punya cukup informasi mengenai “alat” apa yang dipake untuk mengetahui tingkat akurasinya.

  2. Faktor lain yang terpenting adalah sejauh mana tingkat pertanggungjawaban publiknya jika test dilakukan oleh pihak berkepentingan. Pasalnya test ini memang dilakukan oleh pihak Yamaha sendiri sebagai bahan edukasi alias product knowledge bagi para sales-marketing dan divisi service mereka.


Meskipun hasilnya masih bisa diperdebatkan, namun setidaknya bisa jadi referensi bagi anda sebelum melakukan test sendiri secara faktual.


Lebih Bertenaga Mana?


Untuk melihat performa sebuah kendaraan, kita perlu menyimak tenaga yang tersalur hingga roda belakang. Selain tenaga murni di mesin, juga ada tenaga aktual yang tereduksi oleh berbagai komponen bergerak hingga akhirnya bisa diperoleh di ban belakang.


Kurva pengukuran berikut ini menunjukkan bahwa CBR masih lebih unggul dibanding V-Ixion dan Mega Pro di kecepatan puncak. Namun demikian V-Ixion mendominasi diputaran rendah dan sedang. Secara teoretik, SOHC memang memiliki torsi lebih besar saat putaran rendah dan sedang, apalagi jika dibekali empat batang klep mirip DOHC 1 silinder. Mega Pro kalah pada kecepatan puncak, meskipun di kecepatan tengah masih bisa memepet persis tenaga V-Ixion.


v-ixion-vs-cbr-vs-megy_a.jpg


CBR terlihat bertenaga di kitiran bawah, sedang, dan tinggi tanpa jeda. Namun demikian, hingga pengukuran di angka 110 km/jam (kpj), terlihat bahwa praktis hanya unggul di kecepatan di atas 100 kpj saat kurva tenaga V-Ixion mulai tidak menjulang lagi.


Lebih Kencang Mana?


Kecepatan akselerasi biasanya menjadi ukuran pertama performa sebuah kendaraan. Jika anda melihat data-data performa kendaraan selain menilik tenaga dan torsi tersedia, anda pasti akan bertanya soal akselerasinya. Mobil-mobil sport dan atau mobil mewah performa tinggi biasanya selalu menyediakan data kecepatan 0-100 km.


Nah kita beruntung bahwa data berikut memperlihatkan bukan saja kecepatan V-Ixion semata, tapi juga perbandingan dengan dua rival sekelasnya.


v-ixion-vs-cbr-vs-megy_b.jpg


1. Tarikan (Standing Acceleration)


Standing Acceleration V-Ixion yang sering disebut sebagai “tarikan” ini cukup mecengankan. Dalam test, V-Ixion mengungguli secara berturut-turut CBR dan Mega Pro. Pada 50 meter pertama hanya dibutuhkan sekitar 4 detik, 100 meter sekitar 7 detik, 200 meter sekitar 12 detik, dan pada 400 meter hanya butuh sekitar 18 detik.


Dalam setiap jarak, V-Ixion unggul tipis dari CBR. Padahal CBR sudah mengadopsi klep DOHC. Kemungkinan besar faktor bobot dan penggunaan injeksi sebagai kekuatan utama V-Ixion, di samping adanya klep ganda SOHC. Sementara itu terlihat jelas Mega Pro tak bisa melakukan perlawanan. Maklum motor tipe turing yang cukup berat dan jelas kalah teknologi.


2. Kecepatan Manuver


Bagaimana kecepatan saat menguntit? Passing Acceleration atau kecepatan mendahului yang merupakan inti kekuatan bermanuver sebuah kendaraan akan tampak di sini. V-Ixion lagi-lagi unggul, meskipun tidak setelak sebelumnya. Keunggulan V-Ixion terutama pada 100 dan 200 meter. Butuh sekitar 4,7 detik oleh V-Ixion untuk mendahului pada jarak 100 meter dan sekitar 8,7 untuk jarak 200 meter. Kedua motor lain berada di bawah kecepatan akselerasi dan manuver V-Ixion. Sayang sekali tidak jelas berapa kecepatan ketiganya saat mencapai masing-masing pos jarak tersebut.


Lebih Irit Mana?


Tenaga dan kecepatan penting. Tapi, jika benar-benar boros, sama saja dengan motor korek bukan? Keceng dan boros, itu biasa. Kencang dan irit, itu luar biasa. Mari kita cermati grafik berikut.


v-ixion-vs-cbr-vs-megy_c.jpg


Lagi-lagi V-Ixion unggul mutlak. Namun kali ini diikuti oleh Mega Pro dan yang kalah telak adalah CBR.


Dalam kecepatan rata-rata 70 kpj, V-Ixion bisa menempuh jarak 45km/liter. Bandingkan dengan CBR yang hanya bisa menempuh jarak 35 km/liter dan Mega Pro dengan jarak 37 km/liter.


Lalu pada kecepatan 60 kpj, V-Ixion bisa menempuh jarak 53 km/liter. Sementara itu CBR yang hanya bisa menempuh jarak 38 km/liter dan Mega Pro dengan jarak 42 km/liter. Itu artinya, meskipun Mega Pro bisa mengimbangi tenaga V-Ixion pada kitiran dan kecepatan menengah seperti terlihat dalam grafik tenaga sebelumnya, namun secara drastis konsumsi bahan bakarnya sangat boros.


Terakhir, bagaimana konsumsi bahan bakar ketiga motor ini di putaran paling lambat, 50 kpj? V-Ixion tetap paling irit di susul Mega Pro dan CBR. Khusus untuk CBR, rupanya kecepatan demikian bukanlah “hokinya”. Di samping boros dengan cuma bisa menempuh sekitar 38 km/liter, juga catatan tenaganya tidaklah mengesankan. Di samping boros, juga kalah tenaga dari V-Ixion dan Mega Pro. Jika bukan karena bobotnya, mungkin saja CBR pun akan kalah dikecepatan akselerasi, bukan?


Anyway, KafeMotor sendiri tidak akan menarik kesimpulan di sini. Maklum data perbandingan di atas sifatnya “internal” dan sudah cukup jelas dari grafik yang tersedia. Yang menarik memang karena perbandingan ini menempatkan 3 jenis teknologi yang berbeda. Kebetulan saja ketiganya sedikit berada pada kelas cc yang sama. Sekarang tugas anda membuktikannya dengan pengujian yang lebih “obyektif”. Di tunggu, Om!!!


PS.



  • Sumber grafik dari YMKI bagian edukasi

  • Grafik silahkan diklik buat ngegedein dikit :D



source : kafemotor.wordpress.com

Bajaj XCD 125


Satu lagi motor sport yang akan keluar dalam pekan-pekan mendatang, BAJAJ XCD 125 DTS-SI (Digital Twin Spark - Swirl induction) yang mesinnya dirancang menyeluruh oleh bagian R and D bajaj Auto. Motor ini mengusung tema fitur seperti motor 150 CC, Performa motor 125 CC, dan Efesiensi BBM layaknya motor 100 CC. SUngguh tiga fitur yang sangat dibutuhkan, terutama saat krisis energi seperti saat ini. Mari kita membahas Tema EXCEED 125 ini.


Fitur Motor 150 CC


Motor ini memiliki beberapa fitur yang biasanya dibenamkan pada motor top end 150 CC seperti :



  • Speedometer Digital

  • Lampu stoplap dengan teknologi LED

  • Headlamp dengan lampu dengan pengarah twin prismatic

  • Sensor kecepatan ban yang non contack sehingga akan Less maintenance.

  • Sistem listrik DC

  • Pnutup Rantai ban dengan peredam suara



Performa Motor 125 CC


Torsi XCD 125 yang sebesar 10.85 Nm cukup besar dan didapat pada RPM yang rendah yakni 5000 RPM membuatnya Motor bertenaga dan memungkinkan kita jarang melakukan pemindahan gear bahkan saat pemakaian pada kecepatan rendah. Performa ini diklaim sesuai dengan pemakaian perkotaan yang LALIN nya lebih bersifat stop and go. Powernya sih biasa-biasa saja yakni 9,5 Daya Kuda pada 7000 RPM.


Efesian BBM layaknya Motor 100 CC


Teknologi Digital Twin Spark - Swirl induction merupakan pengembangan dari Teknologi DTS-I yang dicangkokkan pada kakak kandungnya Bajaj 180 dan 200 CC. DTS SI, dengan perbedaan terletak pada perubahan posisi terminal inlet dan outlet sehingga dihasilkan induksi perputaran (swirl induction) yang lebih besar yang diharapkan menghasilkan pekngkabutan campuran Udara-BM yang lebih efesien. Ditambah lagi sistem busi kembar dan mokroprosesor yang bekerja terus menerus megatur timing pembakaran berdasarkan kecepatan dan beban yang dirasakan sensor, sehingga menjadikan pembakaran yang Optimal dan ramah lingkungan. Klaim bajaj India motor ini memiliki efesiensi yang cukup mencengankan 109 kilometer per liter… what a bike



Spesifikasi Bajaj XCD 125 :

Engine/Tranmission

Type: Four-stroke, natural air-cooled

Jumlah silinder: 1

Bore: 54 mm

Stroke: 54.4 mm

Displacement: 124.58 cc

Compression: 9.5:1

Idling speed: 1400 rpm

Maximum power: 9.53 bhp @ 7000 rpm (Bajaj converts PS to bhp at 1:1)

Maximum torque: 1.1 kgm@5000 rpm

Ignition system: Microprocessor controlled, digital CDI with TRICS in Carburettor

Ignition timing: Variable timing with multiple maps

BBM : Bensin, 87 RON minimum

Spark plug: #2 Champion RG4HC

Lubrication: Wet sump, forced

Clutch: Tipe Basah, multi-disc type

Transmission: 4-speed (all-down) constant mesh :-(


SASIS

Type: Single down tube with engine as stressed member. Square section tubes


SUSPENSI

Depan: Telescopic (125mm travel)

Belakang: Swing arm with 5-step adjustable shock with dual SNS spring (105 mm travel)

REM : 130 mm drum type

BAN : 2.75-17 (front), 3.00-17 (rear)


Dimensions

Panjang: 1980 mm

Lebar: 760 mm

Tingg: 1200 mm

Jarak sumbu ban: 1275 mm

Ground clearance: 170 mm

Radius putar: 1990 mm

Berat: 112 kg

Performance Max speed: 90 kph


Gambar2 : www.bajajauto.com, www.xbhp.com, Forum KHTI


sumber : ninja250r.wordpress.com

Penjualan Sepeda Motor 2008

Penjualan sepeda motor sepanjang 2008 telah mencapai 6.215.865 unit atau tumbuh 32,6 persen dibandingkan 2007 yang mencapai 4.688.263 unit. Honda masih memimpin.

Garis Besar Market Share Sepeda Motor di Indonesia tahun 2008

Honda 46%
Yamaha 39%
Suzuki 13%
Kawasaki 0.7%
Lain-lain sisanya

Yamaha tetap nomor dua, dikarenakan kapasitas produksinya juga belum mendukung, kita tunggu saja nanti di 2009